Qurban atau Aqiqah, mana yang didahulukan?

Sahabat, Idul Adha mulai mendekat. Sebagian dari kita tentu ada yang bertanya, mana yang lebih didahulukan: apakah berkurban atau akikah?

Sebenarnya, akikah dan kurban hukumnya sama-sama kuat, yakni sunnah muakkad (yang sangat ditekankan), demikian mayoritas ulama berpendapat. Hal ini terdapat dalam riwayat Muslim dari sahabat Ummu Salamah, bahwa Nabi SAW bersabda, “Apabila kalian melihat hilal bulan Dzulhijah dan kalian hendak berkurban maka jangan menyentuh rambut dan kukunya.”

Berdasarkan keterangan hadis di atas, berarti memang hukum kurban bukanlah wajib, namun sunnah yang sangat ditekankan bagi yang mampu melaksanakannya. Lalu, apa yang seharusnya didahulukan oleh seorang muslim, berkurban terlebih dahulu atau akikah? Bagaimana jika seseorang ingin melaksanakan keduanya, yakni akikah dan kurbannya sekaligus? Jika memang mampu dilaksanakan itu lebih baik.

Kewajiban akikah ada di pundak orangtua. Akan tetapi, jika orang tuanya tidak mampu maka bila si anak telah mempunyai kelapangan rezeki, dapat melaksanakan sunah akikah itu sendiri.

Dalam pelaksanaannya, akikah tidak dapat digabung dengan berkurban. Orang yang membeli hewan untuk akikah harus membeli satu hewan lagi untuk berkurban jika dilakukan pada hari raya Idul Adha. Terkait waktu pelaksanaannya, akikah tidak terbatas. Tetapi, kurban hanya boleh dilaksanakan pada Dzulhijjah. Sejak usai shalat Idul Adha hingga hari Tasyriq, 11, 12, dan 13 Dzulhijjah, bersamaan dengan jamaah haji yang sedang wukuf di Padang Arafah.

Soal teknis penyembelihan, sesuai dengan hadis dari Aisyah RA, “Wahai Fatimah, bangunlah dan saksikanlah kurbanmu,” maka penyembelihan hewan kurban harus disaksikan sendiri oleh pemiliknya.

Namun, pada masa sekarang orang yang berkurban dapat menyerahkan kurbannya kepada orang yang amanah, dalam hal ini lembaga amil zakat. Saat ini, banyak lembaga zakat yang dapat membantu untuk menyalurkan kurbannya kepada yang lebih berhak.

Adapun syarat diterimanya hewan kurban oleh Allah SWT ialah menggunakan harta yang halal saat membeli hewan kurban tersebut. Kedua, dikerjakan pada waktunya saat hari raya Idul Adha dan tiga hari Tasyriq.

Ketiga, harus dilakukan dengan ikhlas. Keempat, menggunakan hewan yang cukup umur, besarnya, sehat, dan tidak cacat. Hewan tersebut berupa sapi, kambing, domba, kerbau atau unta.

Selain itu, berkurban lebih utama dibandingkan akikah. Hal itu karena berkurban disebut beberapa kali dalam
Alquran. Sedangkan, akikah hanya sebagai bentuk rasa syukur yang hanya terdapat dalam hadis saja.

Karena itu pula, niat akikah dan kurban tidak boleh digabungkan. Soal teknis penyembelihan dan distribusi hewan kurban, disarankan agar melibatkan lembaga amil zakat. Mereka memiliki data mustahik yang lebih banyak, sehingga, tercapai pemerataan pembagian daging kurban.

Soal apa saja syarat diterimanya kurban, hewan kurban yang disembelih merupakan hewan peliharaan, bukan hewan tangkapan dari hutan.

Hewan tersebut harus sehat dan tidak sakit. Pendistribusian daging sebaiknya merupakan daging mentah. Karena, hak mereka daging tersebut akan dimasak atau dijual kembali.

Ini berbeda dengan akikah yang distribusinya dilakukan dengan dimasak terlebih dahulu. Sehingga, mereka yang menerima dapat segera menikmatinya tanpa menyusahkan untuk memasak lagi.

Karena, akikah merupakan wujud rasa syukur atas lahirnya seorang anak. Dengan membagi matang berarti berbagi kesenangan dan memudahkan mereka.

Sebarkan ( Share! )

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *